Mengenal Fast Fashion dan Dampak Negatifnya Bagi Lingkungan dan HAM

Fast fashion adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan desain pakaian yang bergerak cepat dari catwalk ke toko untuk memenuhi tren baru. Koleksinya sering didasarkan pada desain yang disajikan di acara Fashion Week. Fast fashion memungkinkan konsumen umum untuk membeli pakaian trendi dengan harga terjangkau.

Fast fashion menjadi menjamur berkat harga pakaian yang lebih murah, adanya peningkatan selera untuk pakaian modis, dan peningkatan daya beli di pihak konsumen. Karena semua ini, fast fashion menantang lini mode baru yang diperkenalkan secara musiman oleh rumah mode tradisional. Bahkan, tidak jarang pengecer fast fashion memperkenalkan produk baru beberapa kali dalam satu minggu agar tetap relevan dan bertahan pada tren.

Fast fashion adalah model bisnis yang menggunakan bahan dan tenaga murah untuk membuat koleksi pakaian dengan cepat. Dapat disimpulkan sebagai pakaian yang murah dan trendi, yang mengambil sampel ide-ide dari peragaan busana dan/atau budaya selebriti dan mengubahnya menjadi pakaian yang tersedia secara online dan di toko-toko hanya dalam waktu semalam.

Berikut ini adalah pengertian lebih lanjut mengenai apa itu fast fashion dan bagaimana dampaknya bagi lingkungan dan hak asasi manusia.

Mengenal Fast Fashion
Mengutip dari thegoodtrade.com, untuk memahami dan mendefinisikan apa itu fast fashion, penting untuk terlebih dahulu memberikan konteks fenomena. Industri fesyen, hingga pertengahan abad kedua puluh, berjalan dalam empat musim setahun: musim gugur, musim dingin, musim semi, dan musim panas.

Desainer bekerja selama berbulan-bulan untuk merencanakan mode pakaian dalam setiap musim dan memprediksi keinginan pelanggan agar sesuai dengan kepentingan mereka. Sebelum pakaian-pakaian tersebut menjadi dapat diakses oleh massa, terlebih dahulu dibuat dan dikenakan oleh para masyarakat kelas atas dengan beberapa aturan yang harus diikuti.

Revolusi Industri berperan untuk apa yang diketahui sebagai fast fashion saat ini. Industri terus mempercepat pergerakan fesyen dan menurunkan biaya produksinya. Fast fashion menggunakan replikasi tren, produksi cepat, dan bahan berkualitas rendah untuk mempersembahkan gaya dengan harga terjangkau kepada publik. Sayangnya, ini menghasilkan dampak berbahaya bagi lingkungan, kesejahteraan manusia, dan akhirnya bagi dompet masing-masing.

Tren Replikasi Dan Produksi yang Semakin Pesat
Saat ini merek-merek fast fashion memproduksi sekitar 52 “musim-mikro” setiap tahunnya. Ini berarti setidaknya terdapat satu “koleksi” baru setiap minggu. Rumah mode Zara memulai praktik fast fashion dengan mengganti jadwal pengiriman pakaian yang semula per musim (4 bulan) menjadi setiap dua minggu sekali. Hal ini membuat persediaan stok baju meningkat.

Dengan jumlah pakaian yang dimiliki masing-masing pengecer, ada beberapa anak muda yang tertinggal dari target pasar mereka. Saat ini, perusahaan seperti H&M dan Forever21 sama-sama mendapatkan pengiriman pakaian baru setiap hari, sementara Topshop memperkenalkan 400 gaya pakaian baru dalam seminggu di situs webnya.

Sebagian besar perusahaan yang termasuk dalam kategori fast fashion saat ini mereplikasi tren streetwear dan Fashion Week secara real-time. Ini berarti, hanya perlu waktu kurang dari beberapa minggu untuk mendapatkan model-model baju terkini. Dengan menciptakan gaya baru yang diinginkan setiap minggu, merek-merek ini mampu menciptakan pakaian dalam jumlah besar dan memastikan bahwa pelanggan tidak pernah bosan dengan inventaris toko mereka.

Banyak orang memperdebatkan mengenai apakah masyarakat memang ingin penampilan baru setiap saat atau apakah keinginan tersebut ada karena pemain top industri menginginkan masyarakat untuk berpikir dan berperilaku demikian. Karena, tak bisa dipungkiri bahwa ada perasaan ketinggalan jaman yang selalu kita rasakan berkaitan dengan tren pakaian.

Sehingga, muncul kehausan untuk terus memperbarui isi lemari beserta pernak-perniknya meski kenyataannya Anda telah memiliki banyak sekali pakaian.

Kualitas dan Biaya Produksi Rendah

Dengan meningkatnya laju produksi, ada sudut-sudut yang tak terhindarkan yang telah terpangkas. Agar jaket bomber yang trendi mendarat di lantai toko Forever21 sebelum dianggap terlambat, ada beberapa konsekuensi yang terjadi.

Karena pakaian tersebut dibuat dengan cara yang terburu-buru, kualitas menjadi diabaikan. Tidak ada cukup waktu untuk kontrol kualitas yang tepat atau untuk memastikan kemeja A memiliki jumlah kancing yang sesuai. Karena, ada urgensi dari merek fesyen tersebut untuk segera memasarkan pakaian kepada pelanggan yang telah menunggu.

Proses pembuatan fast fashion menyisakan banyak potongan-potongan yang sering dibuang begitu saja. Setiap pakaian yang diproduksi dengan cepat tidak dibuat agar tahan lama dan mudah rusak. Urgensi yang sama juga membuat perusahaan menekan biaya produksi serendah mungkin.

Perusahaan seperti H&M dan Zara sangat peduli dengan laba dan mengandalkan “lautan pakaian” yang mereka hasilkan demi keuntungan perusahaan. Hal ini membuat banyak pekerja dibayar jauh di bawah upah minimum.

Dampak Lingkungan dan Pelanggaran HAM
Semua elemen dalam fast fashion, baik itu replikasi tren, produksi cepat, kualitas rendah, harga bersaing, memiliki dampak besar pada lingkungan dan orang-orang yang terlibat dalam produksinya. Kerusakan lingkungan, yang terus diciptakan oleh industri fashion, sebagian besar disebabkan oleh fast fashion.

Merek-merek pakaian seperti Forever21 menggunakan bahan kimia beracun, pewarna berbahaya, dan kain sintetis yang meresap ke dalam pasokan air di negara-negara asing tempat pakaian itu dibuat dan di rumah-rumah tempat pakaian itu dicuci.

Setiap tahun, pakaian yang dibuang begitu saja berjumlah sekitar 11 juta ton di AS. Pakaian ini penuh timbal, pestisida, dan bahan kimia berbahaya dan beracun lain yang tak terhitung jumlahnya dan terlepas begitu saja di udara. Seiring dengan efek fast fashion, proses ini mempengaruhi manusia yang memakainya dan manusia yang membuatnya.

Beberapa pakaian dan aksesori bahkan memiliki jumlah timah hitam yang berbahaya di dalamnya, dan paparan terhadap timah hitam meningkatkan risiko infertilitas, serangan jantung, dan banyak lagi. Kulit adalah organ tubuh terbesar pada manusia, dan menempatkan benda-benda yang dibuat dengan buruk dan penuh bahan berbahaya ini di atasnya tentu tidak bisa dibenarkan. Terlebih, bahaya ini hanya tumbuh di pabrik, kota, dan rumah yang digunakan untuk memproduksi barang-barang fast fashion.

Kesehatan pekerja garmen terus-menerus terancam karena jam kerjanya yang panjang, kurangnya sumber daya, paparan bahan kimia berbahaya, dan seringkali mengalami penyiksaan fisik. Orang-orang yang membuat pakaian fast fashion telah dipastikan kurang dibayar, kurang makan, dan dipaksa kerja melampaui batas karena mereka tidak punya pilihan lain.

Munculnya Slow Fashion

Meskipun industri fesyen secara keseluruhan bersalah melakukan banyak kejahatan terhadap manusia dan lingkungan, fast fashion adalah penyumbang terbesarnya. Untuk itu, saat ini sedang marak kemunculan industri tandingan fast fashion, yaitu slow fashion.

Slow fashion adalah gerakan menuju manufaktur yang lebih perhatian terhadap hak-hak buruh yang adil, penggunaan bahan-bahan alami, dan masa pakai pakaian yang lebih tahan lama. Slow fashion memiliki merek, komunitas, dan individu yang berjuang untuk keselamatan bumi dan sesama manusia.

Membeli pakaian dari merek yang bertanggung jawab memastikan bahwa Anda memiliki kontrol atas gaya pribadi Anda yang lebih berkelanjutan, mendapatkan produk-produk yang berkualitas, dan sekaligus melindungi mereka yang paling membutuhkan perlindungan.

No Comments

Leave a Reply